Jakarta. Polisi mengungkapkan temuan baru dalam pengeboman sekolah di Jakarta minggu lalu, dengan mengatakan remaja tersangka di balik ledakan yang melukai hampir 100 orang terinspirasi oleh penembak massal global dan aktif dalam kelompok online yang mengagungkan kekerasan.
Ledakan tanggal 7 November melanda masjid SMA Negeri 72 Jakarta saat salat Jumat, melukai 96 siswa dan guru. Hingga hari Selasa, 28 korban masih dirawat di rumah sakit dalam salah satu insiden terkait sekolah paling serius di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Tersangka — seorang siswa di sekolah yang sama — masih dirawat di RS Bhayangkara Polri karena mengalami luka serius di kepala. Identitasnya belum diungkapkan karena dia masih di bawah umur.
Penyidik dari unit kontraterorisme polisi Detasemen 88 menemukan bahwa mahasiswa tersebut telah mengikuti kelompok internet yang mempromosikan ideologi ekstremis dan mendapat inspirasi dari setidaknya enam serangan massal di luar negeri, kata juru bicara unit tersebut Mayndra Eka Wardhana.
“Kami menemukan bukti-bukti yang meresahkan. Beberapa tokoh tampaknya mempengaruhi tindakan tersangka,” kata Mayndra dalam jumpa pers di Jakarta.
Berdasarkan analisa digital forensik, pelaku yang diidolakan mahasiswa tersebut antara lain:
- Eric Harris dan Dylan Klebold, penembak di Columbine High School (AS, 1999)
- Dylann Roof, pria bersenjata di gereja Charleston (AS, 2015)
- Alexandre Bissonnette, penembak masjid Quebec (Kanada, 2017)
- Vladislav Roslyakov, penyerang Kerch Polytechnic College (Crimea, 2018)
- Brenton Tarrant, penembak masjid Christchurch (Selandia Baru, 2019)
- Natalie Lynn Rupnow, penembak di Abundant Life Christian School (AS, 2024)
Polisi mengatakan nama beberapa penyerang tertulis di senapan mainan tersangka, yang ditemukan di lokasi ledakan, di samping kalimat: “Brenton Tarrant – Selamat Datang di Neraka.”
“Temuan seperti ini memerlukan kesadaran kolektif – tidak hanya dari penegak hukum tetapi juga dari para pendidik, keluarga, dan lingkungan online di sekitar anak-anak kita,” kata Mayndra.
Bom Paku Buatan Sendiri dan Peledakan Jarak Jauh
Analisis forensik menunjukkan bahwa bom yang digunakan dalam serangan itu adalah bom yang sederhana namun sangat berbahaya, dibuat dengan kalium klorida sebagai bahan peledak utama dan paku yang dimasukkan ke dalamnya sebagai pecahan peluru.
“Alat tersebut berisi potasium klorida dan paku yang tersebar di seluruh masjid setelah ledakan,” kata Komandan Brimob Polda Metro Jaya Kompol Henik Maryanto.
Polisi mengatakan tersangka membawa tujuh bom ke sekolah – dua meledak di dalam masjid, empat kemudian ditemukan di dekat tempat sampah sekolah, dan satu di perpustakaan. Tiga dari bom tersebut gagal meledak dan kemudian dijinakkan dan dikirim untuk pengujian forensik.
Beberapa perangkat menggunakan baterai A4, pemicu yang dikendalikan dari jarak jauh, dan wadah plastik satu liter sebagai wadahnya. Pecahan bom dan satu buah senapan mainan disita sebagai barang bukti.
“Ledakan dipicu dari jarak jauh menggunakan sistem pemancar dan penerima 6 volt,” kata Henik.
Rekaman pengawasan menunjukkan tersangka tiba di sekolah pada 7 November dengan membawa dua tas besar, yang diyakini berisi komponen bom, kata juru bicara Polda Metro Jaya Bhudi Hermanto.
“Tersangka datang ke sekolah dengan membawa tas jinjing dan ransel. Itu salah satu barang bukti penting,” kata Bhudi seraya menambahkan bahwa tiga bom gagal menyala karena sambungan sekring tidak lengkap.