Jakarta Gubernur Eyes Green Spaces Terinspirasi oleh High Line New York

Rizal Santoso
Rizal Santoso

Sebagai jurnalis yang berpengalaman lebih dari 15 tahun di media Indonesia, saya berkomitmen untuk menyajikan informasi yang relevan dan otentik agar pembaca lebih dekat dengan keragaman Indonesia.

Jakarta. Gubernur Pramono Anung berencana untuk mengubah ruang publik Jakarta yang diabaikan menjadi taman hijau yang semarak, menarik inspirasi dari taman tinggi yang terkenal di Kota New York, sebuah taman linier yang ditinggikan yang dibangun di atas jalur kereta yang tidak digunakan.

“Saat berada di New York, saya mengunjungi High Line Park, dan itu mengilhami saya untuk memanfaatkan banyak ruang publik Jakarta yang terabaikan,” kata Pramono selama pelaksanaan regional aksi aksi iklim Urban Action (UCAP) yang bersidang di Jakarta Tengah pada hari Rabu.

Pemerintahan Jakarta akan mengadakan pertemuan khusus dengan walikota kotamadya Jakarta dan bupati pulau -pulau Thousand pada hari Jumat untuk memetakan detail untuk inisiatif ini, yang bertujuan untuk mempercantik kota sambil menangani tantangan pembebasan lahan Jakarta.

High Line di New York City adalah taman tinggi 2,3 kilometer yang dibangun di atas jalur kereta api bekas di sisi barat Manhattan. Sejak dibuka secara fase yang dimulai pada tahun 2009, taman ini telah mengubah koridor industri yang tidak digunakan menjadi jalur hijau perkotaan yang subur, menampilkan taman, instalasi seni, dan jalur pejalan kaki, sementara memacu revitalisasi lingkungan dan melayani sebagai model untuk penggunaan kembali adaptif di kota -kota di seluruh dunia.

Pramono melihat potensi yang sama untuk Jakarta, di mana lingkungan yang padat penduduknya sering tidak memiliki ruang hijau yang dapat diakses, dan proyek -proyek pembangunan sering berhenti karena kompleksitas pembebasan lahan.

“Program ini tidak hanya akan mempercantik Jakarta dengan ruang hijau tambahan tetapi juga memberikan solusi untuk masalah pembebasan lahan lama di kota,” kata Pramono, menambahkan bahwa banyak fasilitas publik di Jakarta kurang dimanfaatkan dan dapat digunakan kembali untuk keuntungan masyarakat.

Dengan merevitalisasi area publik yang ditinggalkan, Pramono berharap untuk mempromosikan partisipasi masyarakat sambil meningkatkan kualitas hidup di modal yang padat.