Mahasiswa PhD Trinity menyelidiki model kesehatan mental berbasis biologi baru

Rizal Santoso
Rizal Santoso

Sebagai jurnalis yang berpengalaman lebih dari 15 tahun di media Indonesia, saya berkomitmen untuk menyajikan informasi yang relevan dan otentik agar pembaca lebih dekat dengan keragaman Indonesia.

“Telah terjadi pergeseran ke arah penggunaan media sosial yang lebih luas, baik dalam komunikasi maupun keterlibatan sains, yang membawa lebih banyak orang ke dalam percakapan.”

Ellen Moore adalah mahasiswa PhD FutureNeuro di Gillan Lab di Trinity College Dublin, tempat dia menyelidiki kesehatan mental dan kognisi menggunakan pemetaan otak dan pengumpulan data berbasis ponsel cerdas secara real-time.

Moore menjelaskan kepada SiliconRepublic.com bahwa ada keterputusan antara bagaimana kondisi kesehatan mental digambarkan dan bagaimana kondisi tersebut terwujud secara biologis.

“Secara khusus, penelitian sangat bergantung pada label diagnostik seperti ‘depresi’ atau ‘kecemasan’, yang berguna namun tidak memetakan dengan tepat bagaimana otak sebenarnya bekerja,” katanya. “Pada kenyataannya, gejala kesehatan mental cenderung tumpang tindih dan muncul dalam spektrum yang berbeda-beda, bukannya dimasukkan ke dalam kotak yang rapi.

“Pengalaman langsung mencerminkan hal ini, karena kesulitan yang dihadapi manusia jarang sekali bisa diselaraskan secara sempurna dengan satu kategori saja.”

Penelitiannya berfokus pada model penyakit mental baru yang potensial yang didasarkan pada biologi dan mencerminkan bagaimana otak berfungsi, bukan hanya bagaimana gejala-gejalanya dikelompokkan.

Untuk mengeksplorasi hal ini, Moore menggunakan pencitraan otak – khususnya MRI fungsional – untuk melihat pola aktivitas di otak saat istirahat sebelum membandingkan bagaimana berbagai cara untuk mendefinisikan masalah kesehatan mental sesuai dengan hasilnya.

“Pertanyaan kuncinya sederhana – pendekatan manakah yang lebih mampu menjelaskan apa yang kita lihat di otak?”

Moore memiliki gelar master dalam ilmu biomedis dari Radboud University di Belanda, dengan spesialisasi di bidang ilmu saraf medis.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menjadi peneliti?

Sebagai seorang anak, saya mempertanyakan segalanya. Saya ingin tahu tentang bagaimana segala sesuatunya berjalan dan mengapa segala sesuatunya terjadi seperti itu. Saya pikir ini adalah perkembangan alami dari rasa ingin tahu yang membawa saya menuju sains dan pada akhirnya menuju penelitian.

Ketertarikan saya pada penelitian kesehatan mental dibentuk oleh pengalaman pribadi, dan melihat keterbatasan dalam memahami dan menangani kondisi kesehatan mental. Hal ini pada akhirnya memotivasi saya untuk mengejar pekerjaan yang bertujuan menjembatani kesenjangan antara pengalaman hidup, metode penelitian, dan praktik klinis.

Apa saja tantangan atau kesalahpahaman terbesar yang Anda hadapi sebagai peneliti di bidang Anda?

Salah satu tantangan dalam bidang penelitian saya adalah ketergantungan pada kategori diagnostik tradisional. Meskipun berguna dalam konteks klinis, hal ini dapat membatasi cara kita mempelajari kesehatan mental dari sudut pandang penelitian, terutama ketika mencoba memetakan kategori-kategori ini ke dalam pengukuran berbasis otak. Peralihan menuju pendekatan transdiagnostik yang lebih fleksibel memang menjanjikan, namun hal ini juga menimbulkan tantangan metodologis dan konseptual baru.

Dalam hal kesalahpahaman, terkadang ada harapan bahwa pencitraan otak dapat memberikan jawaban yang jelas atau penjelasan yang pasti mengenai kondisi kesehatan mental. Pada kenyataannya, temuan-temuan tersebut seringkali tidak kentara, bersifat probabilistik dan memerlukan interpretasi yang cermat. Salah satu tantangannya adalah mengelola ekspektasi ini sambil tetap mengkomunikasikan nilai dari upaya ini dalam meningkatkan pemahaman kita tentang kesehatan mental.

Apakah menurut Anda keterlibatan publik terhadap ilmu pengetahuan dan data telah berubah dalam beberapa tahun terakhir?

Saya pikir telah terjadi pergeseran ke arah penggunaan media sosial yang lebih luas, baik dalam komunikasi maupun keterlibatan sains, yang membawa lebih banyak orang ke dalam percakapan dan berpotensi meningkatkan cakupan dan dampak penelitian.

Pada saat yang sama, hal ini juga menyoroti beberapa tantangan. Peningkatan akses terhadap informasi tidak selalu berarti peningkatan pemahaman, dan temuan yang kompleks dapat disalahartikan atau disederhanakan. Dalam bidang seperti kesehatan mental, yang ilmu pengetahuannya sudah sangat beragam, komunikasi yang jelas menjadi sangat penting.

Secara keseluruhan, menurut saya ada peningkatan keinginan untuk terlibat dengan sains, namun juga ada tanggung jawab yang lebih besar bagi para peneliti untuk mengomunikasikan pekerjaan mereka dengan jelas, transparan, dan mudah diakses.

Bagaimana Anda mendorong keterlibatan dengan pekerjaan Anda sendiri?

Sebagai mahasiswa PhD tahun pertama, fokus utama saya adalah memulai penelitian dan mendorong rekrutmen peserta. Namun pada akhirnya, tujuan dari setiap penelitian adalah untuk menyampaikan dengan jelas mengapa penelitian tersebut penting, pendekatan yang digunakan, dan wawasan yang muncul.

Mendorong keterlibatan dengan pekerjaan saya berarti memikirkan komunikasi sejak awal. Bahkan pada tahap ini, hal tersebut melibatkan diskusi ide-ide di laboratorium saya, presentasi rencana awal, tantangan dan observasi, serta tetap terbuka terhadap masukan. Selain itu, menurut saya penting untuk tetap terhubung dengan pengalaman hidup yang mendasari penelitian kesehatan mental. Meskipun karya saya sebagian besar bersifat teoritis dan tidak selalu dapat diterjemahkan secara langsung, mendasarkannya pada konteks dunia nyata membantu membentuk pertanyaan yang saya ajukan dan menjaga tujuan penelitian yang lebih luas.

Ke depan, saya melihat hal ini akan berkembang lebih jauh melalui keterlibatan akademis yang lebih formal seperti konferensi, poster, dan publikasi, sambil juga mempertimbangkan bagaimana temuan-temuan dapat dikomunikasikan dengan lebih mudah diakses oleh khalayak yang lebih luas. Meskipun penelitian bersifat abstrak, menjadikannya dapat dipahami dan relevan adalah kunci untuk memastikan penelitian tersebut dapat diterima di luar dunia akademis.