Patrick Masterson dari Magnet Plus membahas mengapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk terlibat dalam kombinasi strategi jaringan dan keamanan untuk memastikan kelangsungan bisnis dan menjaga kepercayaan pelanggan.
Bagi banyak organisasi, keamanan siber secara tradisional berfokus pada perlindungan data, mencegah ransomware, dan mengamankan titik akhir.
Namun salah satu ancaman siber terbesar yang dihadapi bisnis saat ini tidak dirancang untuk mencuri data atau informasi pribadi sama sekali – melainkan dirancang untuk menghentikan operasional bisnis Anda. Dikenal sebagai serangan ‘penolakan layanan terdistribusi’ (DDoS), serangan ini menjadi salah satu ancaman siber yang paling mengganggu kelangsungan bisnis saat ini.
Menurut Badan Uni Eropa untuk Lanskap Ancaman Keamanan Siber 2025, serangan DDoS menyumbang 77 persen dari seluruh insiden keamanan siber yang dilaporkan di seluruh UE pada tahun lalu, menjadikannya bentuk serangan siber yang paling umum.
Daripada mencuri data sensitif atau menyebarkan ransomware, serangan DDoS malah membanjiri infrastruktur jaringan internet perusahaan dengan lalu lintas yang berlebihan, memperlambat layanan online untuk pelanggan dan karyawan yang sah dan dalam kasus yang parah, menjadikannya sebagian atau seluruhnya tidak tersedia. Hal ini mengakibatkan penghentian layanan dan kinerja yang lambat; portal pelanggan berhenti merespons, komunikasi menjadi terputus dan karyawan tidak dapat mengakses aplikasi penting yang mereka andalkan setiap hari.
Bahkan periode downtime yang relatif singkat dapat menimbulkan konsekuensi operasional dan finansial yang signifikan, sehingga memengaruhi pendapatan, kepercayaan pelanggan, dan reputasi bisnis.
Saat ini, terdapat kekhawatiran serius bahwa terjadinya serangan DDoS akan meningkat di Irlandia dalam beberapa bulan mendatang karena kepresidenan Irlandia di UE. Kekhawatiran ini didasarkan pada fakta bahwa terjadi peningkatan serangan DDoS di Denmark pada tahun 2025 dan di Siprus pada awal tahun ini selama masa kepemimpinan mereka di Uni Eropa.
Serangan yang paling umum adalah serangan DDoS tebusan, di mana penyerang melancarkan serangan DDoS terhadap perusahaan, mengancam serangan yang lebih besar, dan meminta pembayaran biasanya dalam mata uang kripto. Pengecer online, bank, perusahaan game, perusahaan teknologi, penyedia cloud dan SaaS sering kali termasuk dalam kelompok ini. Departemen pemerintah, organisasi semi-negara, dan organisasi politik juga pernah mengalami serangan DDoS berdasarkan sifat politik mereka dan kemampuan serangan tersebut untuk menarik perhatian media jika berhasil. Target penting lainnya mencakup merek atau perusahaan terkenal nasional dan internasional yang terdaftar di pasar saham global.
Pusat Keamanan Siber Nasional telah memperingatkan bahwa serangan pada masa Kepresidenan Irlandia dapat mengakibatkan gangguan terhadap layanan yang dapat menyebabkan kerusakan parah pada reputasi Irlandia dan UE.
Perubahan pola pikir mendasar dalam cara organisasi menjaga infrastruktur digital mereka kini diperlukan untuk memitigasi risiko DDoS dan memastikan sistem terus terlindungi.
Ketika perusahaan semakin bergantung pada aplikasi yang didukung AI, komunikasi terpadu, kerja hybrid, dan pengalaman pelanggan digital, kemampuan untuk menjaga sistem penting tetap online menjadi sama pentingnya dengan melindungi data yang ada di dalamnya.
Oleh karena itu, konektivitas dan keamanan siber tidak boleh dianggap sebagai hal yang terpisah. Konektivitas tidak lagi diharapkan hanya untuk memberikan kecepatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, organisasi perlu mempertanyakan apakah konektivitas tersebut dapat bertahan terhadap gangguan.
Bisakah karyawan tetap bekerja jika permintaan tiba-tiba melonjak? Bisakah aplikasi yang berhubungan dengan pelanggan tetap tersedia selama aktivitas berbahaya? Bisakah sistem kritis terus beroperasi ketika terjadi hal yang tidak terduga? Semakin banyak pertanyaan yang diajukan di ruang rapat dan bukan pertanyaan TI.
Namun, konektivitas yang tangguh saja tidak lagi cukup. Maraknya serangan DDoS menunjukkan bahwa ketersediaan jaringan itu sendiri telah menjadi sasarannya. Untuk melindungi ketersediaan tersebut, organisasi perlu membangun keamanan siber ke dalam jaringan dibandingkan memperlakukannya sebagai lapisan tambahan yang ditambahkan setelahnya.
Semakin banyak organisasi yang merespons meningkatnya risiko serangan DDoS dengan memanfaatkan akses internet khusus (DIA). Tidak seperti broadband bersama, DIA menyediakan koneksi pribadi bagi bisnis, memungkinkan bandwidth yang tidak terbatas, kecepatan simetris, dan kinerja terjamin sekaligus memberikan keyakinan lebih besar kepada organisasi bahwa aplikasi penting bisnis dapat terus bekerja dengan andal.
Menggabungkan layanan DIA dengan perlindungan DDoS yang selalu aktif mengurangi risiko serangan siber lebih lanjut dengan terus memantau lalu lintas jaringan, mengidentifikasi aktivitas berbahaya secara real-time, dan secara otomatis memitigasi serangan sebelum berdampak pada layanan.
Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang mencegah serangan siber. Ini tentang memastikan kelangsungan bisnis, menjaga kepercayaan pelanggan, melindungi produktivitas karyawan, dan memastikan layanan digital penting tetap tersedia saat pelanggan sangat membutuhkannya.
Ketika serangan DDoS menjadi lebih sering terjadi dan organisasi menjadi semakin bergantung pada layanan digital, ketahanan tidak lagi dapat dianggap hanya sebagai masalah TI semata. Perusahaan yang paling siap menghadapi masa depan adalah perusahaan yang membangun jaringan yang dirancang tidak hanya untuk kinerja, namun juga untuk perlindungan, ketersediaan, dan kontinuitas.
Dalam perekonomian digital saat ini, ketahanan bukan hanya sekedar tujuan TI – namun merupakan hal mendasar bagi kesuksesan bisnis.
Oleh Patrick Masterson
Patrick Masterson adalah direktur pelaksana di penyedia telekomunikasi dan broadband Irlandia Magnet Plus. Ia memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di berbagai peran C Suite di perusahaan-perusahaan Irlandia di sektor ritel, teknologi, dan layanan kesehatan.