Jakarta. Seorang mantan komandan pasukan elit anti-teror Densus 88 telah memperingatkan bahwa penemuan polisi terhadap 110 anak di bawah umur yang direkrut oleh jaringan militan pada tahun 2025 kemungkinan hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.
“Kalau ditelusuri lebih dalam, 110 anak tersebut hanyalah puncak gunung es yang terlihat. Masih banyak lagi, karena media sosial saat ini sangat masif,” kata Martinus Hukom dalam wawancara dengan Beritasatu TV, Rabu.
Martinus mengatakan kelompok militan kini memanfaatkan algoritma media sosial yang melacak pola perilaku anak-anak dan remaja. Rekrutmen tidak lagi hanya dilakukan melalui platform pengiriman pesan, namun juga melalui game online yang dilengkapi fitur chat, sehingga pengawasan digital menjadi jauh lebih kompleks.
“Saat saya memimpin Densus 88 antara tahun 2020 dan 2023, ruang digital mereka lebih terbatas — kebanyakan Telegram. Saat ini, polisi menghadapi beban kerja yang jauh lebih besar karena lebih banyak platform,” ujarnya.
Martinus menjelaskan, anak mencari otoritas moral dari lingkungan yang berbeda pada fase perkembangan yang berbeda. Dari usia 0 hingga 5 tahun, mereka memperhatikan keluarga. Namun, pada masa remaja awal – sekitar usia 5 hingga 12 tahun – mereka mulai mencari bimbingan dari permainan dan lingkungan bermain.
“Di sinilah platform digital menghadirkan otoritas moral baru bagi anak-anak. Dan kita harus memahami dengan jelas bahwa ada pelindung moral baru dalam kehidupan anak-anak kita,” ujarnya.
Meminta Pengawasan dan Kontrol Orang Tua yang Lebih Kuat
Martinus mengatakan pengawasan yang lebih ketat terhadap platform digital sangat diperlukan – baik melalui kebijakan publik maupun keterlibatan orang tua – untuk mencegah anak-anak terkena manipulasi ideologi.
“Anak-anak tidak boleh memasuki ruang digital dan kemudian dibenahi moralnya, apalagi ketika berhadapan dengan kelompok penyebar ajaran radikal,” ujarnya mengingatkan.
Martinus menekankan bahwa mencegah radikalisasi online memerlukan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, operator platform digital, sekolah, dan komunitas. Martinus menggambarkannya sebagai perlombaan untuk melindungi anak-anak dari upaya perekrutan ekstremis yang menargetkan mereka di tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktunya: online.